Kamis, 16 Juni 2016

Rahasia Pribadi yang Menyenangkan

Agar dicintai siapa saja,

Sebelum kita memikirkan tentang cara mencari perhatian orang banyak, tentang cara berinteraksi dan mencintai orang lain, lebih baik kita memikirkan dan melakukan berbagai cara agar orang lain menyayangi dan menerima kita apa adanya. Bukan hanya itu namun mereka akan begitu peduli, menanyakan kabar, dan mencari saat mereka kehilangan kita. Pada awalnya, usaha-usaha ke arah itu sering gagal. Kegagalan itu sering terjadi karna faktor kepribadian seperti malu, takut, egois, dan sebagainya.
     Setiap orang yang kita temui ini dianggap penting, sementara kita cendrung mementingkan diri sendiri. Setiap orang mencintai diri sendiri sekaligus ingin diterima oleh orang lain. Lantas, bagaimana agar kita di cintai dan di sayangi?
     Ibnu Qayyim, ulama-psikolog-klasik, menjawab pertanyaan ini dengan memberikan kunci rahasia menarik simpati, cinta, kasih dan sayang orang lain. Ia menulis "Saat berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja, kita perlu menperhatikan dan memastikan agar cara interaksi kita sudah seimbang dengan kemampuan dan tenaga orang lain. Disamping tetap berada dalam ridho dan taat kepada Allah, kita tidak perlu menuntut hal-hal yang tidak mungkin atau melebihi kemampuan. Jika kita terusik atau tersinggung akubat ulsh orang lain, jangan memberi reaksi yang sama, atau sikap memusuhi. Maafkan saja mereka. Biarkan takdir meneruskan tugasnya."
     Dalam sebuah buku klasik mengenai kebijaksanaan tertulis, "Awal persahabatan adalah perkenalan, kasih sayang, keramahan, cinta, dan persaudaraan".
     Kasih sayang adalah kunci yang begitu sakti dalam kabaikan untuk membuka pintu-pintu lainnya. Pintu-pintu itu akan terbuka satu demi satu hingga pintu persaudaraan, derajat yang paling agung dalam hubungan manusia, akan terbuka. Untuk itu mari mulailah langkah-langkah ini tanpa harus merasa malu atau takut. Siapa pun tidak akan menolak uluran persahabatan meski ia tak memiliki wajah yang cukup bersahabat. Pertanyaannya, haruskah mengulurkan tangan pada semua orang yang kita temui? Tentu saja bukan demikian. Bukan berarti kita harus jalan lalu-lalang di jalan dan tempat umum sembari menebar cinta dan sayang-persahabatan. Mulailah menjalin persaudaraan dilingkungan trdekat, sanak saudara, rekan kerja, teman sekolah, tetangga, dan lain-lain hingga lingkaran persaudaraan itu semakin meluas. Lalu anda akan menemukan komunitas terbaru. Orang-orang yang mungkin belum pernah terlintas untuk dikenal tiba-tiba datang mencari, ingin bertemu dan berkenalan dengan anda.
    Dari sekian banyak orang, kita harus memilih orang yang patut kita dekati dan kita jadikan sahabat, adapun cara yang diberitahukan Yahya ibn Khalid al-Barmaki dalam buku muriaranya, "Jika engkau mencintai seseorang tanpa alasan maka harapkanlah kebaikan darinya. Jika engkau membenci seseorang tanpa alasan maka hindarilah kajahatannya." Cinta adalah anugrah ilahi yang tidak dapat dijabarkan dengan alasan atau sebab apa pun. Cinta itu semacam adonan yang terbentuk dari segala sifat terpuji yang Allah ciptakan untuk manusia. Dalam konteks ini, Ali ibn Abu Thalib r.a. mengatakan,  "Hadapilah orang mukmin dengan hatimu, dan hadapilah orang kafir dengan akhlakmu".

Perbaiki diri
Pertama, sebelum membangun persahabatan atau hubungan dengan orang lain, mulailah dari diri sendiri, kasihilah diri anda sendiri. Mengasihi diri sendiri dengan cara taat pada sagala perintah dan aturan Allah swt. Ketaatan ini, langsung atau tidak langsung, akan menyucikan, memperbaiki, serta menumbuhkan keseimbangan pada jiwa dan raga. Kutipan dari Muhghirah ibn Syu'bah menyebutkan, "Sebesar cintamu kepada Allah, sebesar itu pula cinta orang lain kepadamu. Sebesar ketekutanmu akan murka Allah, sebesar itu pula keseganan orang lain terhadapmu. Sebesar kesibukanmu karne Allah, sebesar itu pula orang lain akan sibuk untukmu".
     Oleh karna itu, kita harus memperbaiki dan membentuk kpribadian diri sendiri lebih dahulu. Seseorang pernah ditanya, "Siapa yang mendidikmu?" Diriku sendiri, " jawabnya. "Bagaimana caranya?" ia ditanya lagi. "Membiasakan diri. Jika ada sesuatu yang dibenci dari orang lain, maka selalu aku hindari," jawabnya lagi.

Perilaku terpuji
Prilaku terpuji adalah titik tengah antara dua sifat tercela. Sebagai contoh, sikap murah hati berada di antara kikir dan boros, rendah hati berada diantara lemah dan sombong, sabar ada diantara sifat lemah dan kasar, wajah ceria berada diantara wajah sangar dan wajah kuyu tanpa wibawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar